From a Teacher

I can open up just about any news source and click on yet another manifesto about how teachers are exhausted, schools are failing, or parents don’t parent. But there is no other job I'd rather have than teaching right now. ~ Paul Barnwell~

Protes Saya ke Direktorat PAUD

Maaf, tapi saya sudah geregetan.

Setelah mengunjungi beberapa PAUD, mengobservasi kelas-kelasnya serta berbicara dengan kepala sekolah, saya baru mengetahui bahwa di PAUD mereka dilarang mengajarkan baca tulis kepada anak-anak. Apakah itu benar?

Sebenarnya saya setuju-setuju saya jika PAUD difokuskan untuk bermain dan mengeksplorasi, karena memang cocok dengan usia kognitif dan perkembangan mereka. Memang kelompok usia yang saya temui di sana adalah 3/4-5 thn, 5-6 thn dan 6-7 thn. Bermain memang harus menjadi mata pelajaran utama di PAUD, tentu saja ditambah dengan mendongeng, bernyanyi, eksplorasi seni dan berbagai kegiatan outdoor. 

Jika Direktorat PAUD memutuskan bahwa tidak boleh ada pelajaran membaca, menulis ataupun berhitung di PAUD, maka saya berasumsi bahwa anak-anak yang lulus TK B dari PAUD belum bisa baca dan tulis. Itu berarti (correct me if I’m wrong) mereka nantinya duduk di SD kelas 1 masih dalam keadaan buta huruf. Betul?

Hmmmm……. apakah guru-guru SD kelas 1 sudah tahu? Apakah mereka bersedia menerima keadaan itu? Lalu apakah Anda perhatikan ada begitu banyak buku paket di kelas 1? Mulai dari matematika, PPKn, Bahasa Indonesia, dsb?  Dan bukankah bila ada buku,… maka ada tulisan di dalamnya? Dan bukankah itu berarti buku itu harus dibaca? Lalu bagaimana membacanya jika mereka masih buta huruf?

Waktu Anda mencetuskan ide ‘brilliant’ ini sempat berpikir panjang? Bagaimana perasaan Anda, jika Anda yang buta huruf kanji Jepang, tiba-tiba disodori diktat dalam tulisan kanji Jepang dan diktat itu adalah sumber belajar Anda di sekolah? Tertekan, bukan? Stress? Tidak percaya diri?

Kurang lebih itulah perasaan anak-anak kita. Maka saya tidak menyalahkan kepanikan orang tua mencari les baca tulis instan untuk anaknya sebelum masuk SD. Kalau orang tuanya punya uang sih bisa, nah kalau orang tuanya miskin? Tamatlah sudah!

Oleh karena itu  tolong bicarakan dengan direktorat pendidikan sekolah dasar untuk tidak menggunakan buku-buku paket terlebih dahulu untuk kelas 1. Fokuskan tahun pertama di SD untuk belajar baca, tulis, hitung. Tidak perlu dulu mata pelajaran yang lain. Jika anak-anak kita belum lancar membaca dan memahami isi  bacaan, bagaimana mungkin kita bisa menambahkan ilmu yang lain?

Keterampilan, baca, tulis, hitung, harus dimiliki anak sebelum ia mempelajari bidang ilmu yang lain; konsep matematika, IPA, IPS, atau PPKn. Oleh karena banyaknya sumber belajar yang berasal dari buku, dan itu pasti harus dibaca demi mendapatkan informasinya.

Dan lupakan soal les-les membaca tadi. Mendidik anak adalah tugas sekolah. Jangan melemparkan tanggung jawab itu kepada guru les.

Saya berharap ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk penyusunan kurikulum di PAUD ataupun SD kelas 1. Ingatlah bahwa apa yang dilakukan di PAUD merupakan persiapan menuju pendidikan SD.

~M~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 11, 2012 by in Uncategorized and tagged , , , , , .

Navigation

House of Favor

Christian Child Care in Bogor

L A E L Learning Center

TEACH. SERVE. SHARE. LEARN. GROW.

Lael Learning Centre

Where everybody learns

%d bloggers like this: