From a Teacher

I can open up just about any news source and click on yet another manifesto about how teachers are exhausted, schools are failing, or parents don’t parent. But there is no other job I'd rather have than teaching right now. ~ Paul Barnwell~

Belajarlah Dari Lance Armstrong

Truth hurts. Kebenaran itu menyakitkan.

Ternyata lambat laun kebenaran akan memunculkan sinarnya. Secanggih apapun kita menyembunyikan ketidakjujuran, kebenaran akan tetap menemukan jalannya.

Mungkin Lance Armstrong tidak menyangka hari itu akan tiba ketika dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang menipu dunia dengan prestasi semu di bawah belenggu doping.

Sekian tahun Armstrong menikmati kekayaan, buah ketidakjujurannya selama ini tanpa rasa takut ataupun malu. Saya mencoba memvisualisasikan di dalam pikiran saya, detik-detik ketika Armstrong  memasukkan doping ke dalam tubuhnya. Tidak mungkin nuraninya tidak berdiskusi dengan dia.

Nurani diberikan Tuhan satu paket dengan tubuh, jiwa dan roh ketika Beliau menenun kita dalam kandungan ibunda. Nurani adalah satu-satunya alat komunikasi yang Dia miliki supaya Dia bisa terus ‘berbicara’  kepada kita.

Mungkin Tuhan sudah berusaha keras meyakinkan Armstrong untuk berpikir kembali atau membatalkan rencananya memakai doping. Tetapi kilauan kemenangan, kejayaan, kekayaan dan ketenaran,  telah membuat suaraNya semakin jauh dan tidak terdengar.

Saya bertanya-tanya bagaimana Armstrong  bisa tahan untuk  terus-menerus berperang dengan nuraninya setiap kali akan memulai suatu kejuaraan? Tetapi kemudian saya menyadari, bahwa jika manusia terus-menerus bergulat mengalahkan hati nurani, maka tentu nurani akan berhenti berbicara. Ia akan diam dan perlahan menjadi dingin dan beku. Tidak lagi Armstrong harus merasa takut, gusar ataupun malu. Tidak ada lagi terdengar teguran halus di dalam diri. Berbuat jahat sudah menyatu dengan denyut nadi, bersenyawa dengan  hati. Lagipula, tidak ada seorang pun yang tahu. Hal buruk apa yang mungkin terjadi?

Armstrong mungkin lupa bahwa setiap pilihan yang ia jalani, konsekuensi sudah menanti. Apa yang kau tabur, tentu harus kau tuai entah sekarang atau nanti. Itulah hukum Tuhan terlepas dari apakah kita percaya pada keberadaanNya atau tidak.

Semoga cerita skandal Lance Armstrong ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua yang ada di bangsa ini. Berbuat dan berkatalah dengan jujur bukan karena kita takut dengan guru, takut dengan orang tua, takut pemuka agama, takut atasan, takut bawahan, takut polisi atau takut dengan KPK. Berbuat dan berkatalah jujur karena rasa takut dan hormat akan Dia yang ada di atas sana, yang mataNya ada dimana-mana.

Coba periksa diri kita masing-masing, apakah kita pernah mengabaikan kejujuran dalam keseharian kita? Mungkin sekarang adalah waktu yang paling  tepat untuk memulai perubahan.

Belajarlah dari Lance Armstrong.

Picture courtesy of CBSSport.com: http://www.cbssports.com/columns/story/20593095/if-lance-armstrong-wants-to-redeem-himself-he-has-to-stop-lying-to-us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 29, 2012 by in Character Buiding and tagged , , , .
House of Favor

Christian Child Care in Bogor

L A E L Learning Center

TEACH. SERVE. SHARE. LEARN. GROW.

Lael Learning Centre

Where everybody learns

%d bloggers like this: