From a Teacher

I can open up just about any news source and click on yet another manifesto about how teachers are exhausted, schools are failing, or parents don’t parent. But there is no other job I'd rather have than teaching right now. ~ Paul Barnwell~

Akademik dulu? Atau Karakter dulu?

Bukan saja Anda, tetapi saya pun bingung menjawab pertanyaan di atas. Akademik dulu atau karakter dulu? Sistem pendidikan kita adalah sistem yang sibuk mengejar nilai atau hasil, dan bukan proses. Bahkan sangking sibuknya mengejar hasil, mereka menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Ini terjadi di seluruh tingkatan sekolah , bahkan pada level PAUD dimana bermain seharusnya menjadi mata pelajaran utama. Baik guru, orang tua, kepala sekolah, beramai-ramai ‘mencambuk’ para balita untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung sebelum usia kognitif mereka matang. Tidak  terdengar manusiawi bukan? Maaf, jadi sedikit melebar…

Baiklah , mari kembali kepada pertanyaan di atas.

Saya ingin menjawab pertanyaan di atas dengan pertanyaan lagi. Apakah seseorang dapat dikatakan sukses jika ia mampu meraih IP atau NEM tertinggi? Apakah itu serta merta menentukan keberhasilan hidupnya kelak? Apakah jika ia memiliki otak cemerlang tetapi memiliki karakter yang bobrok ia bisa menjadi orang yang berhasil dan diterima masyarakat? I doubt it!

Sebaliknya jika seseorang tidak terlalu cerdas atau prestasinya biasa-biasa saja tetapi memiliki karakter yang cemerlang, dapatkah ia menjadi sukses dalam hidupnya kelak? Apakah karakter menentukan kesuksesannya? Apakah karakter yang bagus mampu mendorong hasil akademik yang baik?

Dengan karakter yang baik, seseorang justru mampu memperoleh keterampilan-keterampilan lain yang dibutuhkan. Tidak hanya itu, ia akan menjadi orang yang diterima bahkan menjadi inspirasi bagi orang lain untuk maju.

Pendidikan karakter bagi saya adalah satu-satunya ‘mata pelajaran’ yang membutuhkan role model dan pembiasaan. Bukan diajarkan macam teori dengan lagu-lagu penuh gerakan atau bahkan rumus hafalan walaupun itu perlu. Pembiasaan di kelas adalah yang paling efektif dengan melatih anak-anak untuk mempraktekkan karakter-karakter yang sudah pernah diajarkan kepada mereka. Ini harus berlangsung setiap saat, entah ketika di awal kelas, atau di tengah-tengah pelajaran Matematika, atau ketika sedang mengerjakan tugas IPS, atau mungkin ketika jam istirahat.

Guru perlu bersikap konsisten demi menegakkan perilaku atau karakter yang diterima di dalam kelas atau sekolah. Tanpa kompromi tentunya.

Oh, dan satu lagi; guru adalah role model utama. Kalau kitamengajarkan anak-anak untuk disiplin, maka kita pun harus disiplin, entah di dalam atau di luar sekolah. Jika kita ingin mereka bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan, maka Anda sebagai guru pun harus bertanggung jawab terhadap tugas-tugas Anda. Istilahnya, jika Anda mengatakan kepada mereka,”Buanglah sampah pada tempatnya”, maka Anda pun harus melakukan hal yang sama dalam keseharian Anda. Integritas atas omongan.

Guru-guru juga memerlukan ‘pertumbuhan’ karakter sehingga anak-anak didik kita dapat melihat bahwa perilaku kita pun sejalan dengan apa yang kita ajarkan pada mereka.

Dan juga guru bukan orang yang sempurna. Sehingga besar sekali kemungkinan kita pun akan melakukan kesalahan. Tetapi, guru yang patut diteladani adalah guru yang rendah hati dan tidak malu untuk mengakui bahwa dia salah. Apalagi jika guru tersebut dengan berbesar hati mau meminta maaf kepada anak-anak didiknya. Wah, itu luar biasa sekali!

Kita sebenarnya tidak perlu menopengi diri, karena anak-anak pun sudah dapat ‘melihat’ dan ‘merasakan’ jika ada yang kita sembunyikan. Ada baiknya jika kita tetap menjadi pribadi yang apa adanya sehingga kita segera menyadari hal-hal apa yang harus diperbaiki.

Rasanya kita sudah cukup banyak menghadiri seminar-seminar, workshop atau konferensi guru yang bertema ‘Pendidikan Karakter’. Ini adalah waktunya untuk kita melakukannya. Sudah cukup pembahasan-pembahasan dari narasumber yang kompeten, sekarang waktunya bekerja.

Ayo, Bapak dan Ibu Guru, Anda bisa!! Lakukanlah demi anak-anak kita, demi masa depan bangsa.

~M~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 23, 2012 by in Character Buiding and tagged , , .
House of Favor

Christian Child Care in Bogor

L A E L Learning Center

TEACH. SERVE. SHARE. LEARN. GROW.

Lael Learning Centre

Where everybody learns

%d bloggers like this: