From a Teacher

I can open up just about any news source and click on yet another manifesto about how teachers are exhausted, schools are failing, or parents don’t parent. But there is no other job I'd rather have than teaching right now. ~ Paul Barnwell~

Guru. Kami Butuh Banyak Guru.

Banyak yang bilang menjadi guru adalah suatu panggilan. Saya sangat meyakini hal itu.

Selama beberapa tahun bekerja di dunia  pendidikan, saya melihat bahwa hanya guru-guru yang passionate dan memiliki panggilanlah yang akan maju, bertahan dan bahkan berkembang. Tentunya terlepas dari berapa penghasilannya per bulan.

Sebaliknya guru yang tidak punya passion dan panggilan, biasanya berapapun besar gajinya, kinerjanya tetap pas-pasan. Dan ini tentu berimbas pada kualitas anak –anak didiknya.

Saya pun melihat kecenderungan kualitas lulusan FKIP justru masih mentah ketika terjun langsung ke dalam kelas. Well, saya tidak bisa menyalahkan mereka, karena mereka juga adalah hasil sistem pendidikan nasional yang  ….. yahh begitulah. Bahkan tidak sedikit yang justru merasa salah jurusan, karena pada dasarnya mereka tidak suka mengajar, apalagi mengajar anak kecil. Lohh,.. 4 tahun di kampus ngapain aja? Pasti jiwanya sangat tertekan karena harus melakukan sesuatu yang  tidak ia sukai! Kasihan …..

Yang paling lucu adalah, saya malah menemukan guru-guru yang passionate dan memiliki panggilan justru dari latar belakang pendidikan yang sangat bertolak belakang dengan dunia anak-anak; sarjana hukum, sekretaris, manajemen bisnis, ekonomi, public relation, atau bahkan akunting dan marketing. Iya, saya serius! Bahkan ada yang cuma lulusan SMA.

Akhirnya saya memutuskan untuk menghapus kategori S1 sarjana pendidikan dari iklan lowongan mengajar di sekolah saya waktu itu. T.E.R.P.A.K.S.A Daripada tidak ada yang melamar. Nah, lagi-lagi ini menambah pekerjaan saya sebagai school coordinator atau center manager. Otomatis saya harus turun tangan melatih, mengadakan internal training, mendampingi, supervisi dan observasi demi memperlengkapi mereka dengan keterampilan dan ilmu dalam mengajar. Well, capek sih! But it’s worth it! Ternyata mereka mau belajar, dan bahkan belajar dengan cepat. Kualitas mengajar dan disiplin mereka berkembang pesat. Inisiatif mereka sangat kuat, kreatifitas mereka benar-benar lepas. Mereka sangat terbuka terhadap masukan. Langsung sigap memperbaiki apa yang salah. Tidak sia-sia saya lembur kerja selama setahun untuk coaching mereka. Banyak dari mereka akhirnya memutuskan untuk kuliah kembali dengan mengambil jurusan keguruan.

Dalam waktu 2 tahun, saya sudah bisa mengandalkan guru-guru ini untuk menjadi senior teachers yang kemudian gantian harus mengajar dan membimbing junior teachers. Bahkan saya bisa mempercayakan mereka untuk membantu saya menyusun kurikulum setahun.

Kita harus membuka mata bahwa kita tidak punya stok guru TK yang cukup. Di luar sana tidak banyak guru yang sudah siap terjun mengajar. Banyak dari antara mereka masih harus belajar. Apa yang seharusnya menjadi PR dinas pendidikan, sekarang menjadi PR sekolah. Kita tidak bisa berpikir bahwa dengan syarat s1 pendidikan itu akan menyelesaikan masalah sistem mengajar di sekolah. Sayang sekali persyaratan itu tidak banyak membantu. Kepala sekolah dan departemen kurikulum harus turun tangan mengasah mereka sampai menjadi guru yang bagus. Mengasah loh ya, bukan mencari-cari kesalahan mereka.

Pak Mendiknas, bapak bisa belajar dari National Institute of Education nya Singapore. Semua calon guru di coach/ mentor dan langsung terjun ke kelas selama beberapa bulan.

Berapa jumlah anak-anak usia dini di seluruh penjuru Indonesia? Berapa dari mereka yang siap masuk SD? Berapa jumlah guru SD yang pusing karena murid-muridnya belum siap belajar? Berapa jumlah PAUD yang ada? Dan berapa tenaga pengajar yang kompeten?

Kita butuh banyak guru. Ini bukan waktunya memilih-milih guru, tetapi ini waktunya MENCETAK GURU. Mungkin setelah 10 atau 15 tahun, kita baru bisa mulai memilih-milih guru berdasarkan gelar kesarjanaannya, itupun kalau sistem pendidikan kita sudah berubah menjadi lebih baik.

I just want to address this issue.

Saya tetap menghargai mahasiswa yang duduk di FKIP oleh karena pilihan dan passion nya sendiri. Pesan saya, pekerjaanmu kelak adalah yang paling mulia dari semua profesi, karena dari tanganmu kelak akan tercetak insinyur, dokter ahli, ilmuwan, politisi, bankir, businessman,  bahkan leaders! Mereka semua akan memulai perjalanannya dari dalam kelasmu.

Selamat mengajar para guru Indonesia!

~M~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 22, 2012 by in SDM and tagged , , , .
House of Favor

Christian Child Care in Bogor

L A E L Learning Center

TEACH. SERVE. SHARE. LEARN. GROW.

Lael Learning Centre

Where everybody learns

%d bloggers like this: